Terbawa Perasaan Alias Baper

| Penulis: Liana Remhana Sinamo

Kata-kata semacam berikut sering kita dengar dalam beberapa kesempatan, “dih gitu aja baper… lebay lo”, “santuy lah kenapa mesti baper … gw kan cuma bercanda”. Dan kata itu kerap muncul jika ada siswa yang mau menggoda temennya atau membuat kesal temannya di kelas.

Baper ini dalam bahasa psikologi adalah Higly Sensitive Person (HSP). Baper sebenarnya tidak punya konotasi yang salah jika kita menelisik lebih dalam maknanya.

Manusia yang normal pasti punya sensitivitas karena manusia memiliki perasaan. Jika tidak punya perasaan manusia tak ubahnya robot atau benda mati. Padahal Tuhan memberikan manusia perasaan untuk peka merasakan apa yang ada di sekitarnya.

Sebagai contoh, seorang siswa datang dan berkisah bahwa ia merasa terganggu dengan candaan temannya yang mengarah ke body shaming. Kemudian saya pertemukan mereka dan terjadilah perbincangan. Yang seorang berkata, “gak usah baperlah kan gw cuma bercanda” dan yang merasa tersinggung menjawab, “bercanda jangan menghina badan gw juga dong… ngeselin tau”.

Kenali diri Anda supaya karakter positif dalam diri semakin berkembang dan bertumbuh sehingga menjadi pribadi yang sehat secara mental dan jasmani.

Dari perbincangan kami bertiga kata baper cukup mendominasi. Kata yang menimbulkan amarah hingga emosi korban meledak.

Baper bukan sikap yang salah jika direspon dengan positif dan tidak terlalu berlebihan memikirkannya. Karena jika berlebihan akan over thinking. Nah, reaksi yang salah dari orang yang tersinggung karena perlakuan dan ucapan dari orang lain inilah yang menjadi big problem dalam diri seseorang.

Baper menjadi salah saat kita menempatkannya pada perspektif yang salah, mengapa? berikut beberapa alasannya:

  • Baper akan berujung pada amarah. Saat baper yang bergejolak adalah emosi. Emosi jika dikelola dengan benar tidak akan menimbulkan masalah tetapi jika tidak maka yang muncul adalah over thinking.
  • Baper sebenarnya baik karena membuat kita lebih peka dalam menghadapi berbagai permasalahan dan kondisi di sekeliling. Jadi bukan larut dalam masalah sebaliknya justru akan menjadi refleksi diri agar lebih mengerti orang lain.
  • Baper berguna bagi manusia sebagai mahluk sosial supaya bisa berempati dengan orang lain. Saat kita berempati terhadap orang lain maka sifat egois akan cenderung menurun.

Dari beberapa pemahaman di atas sedikit banyak kita belajar bagaimana menjadi pribadi yang peduli baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.Baper boleh dan sah-sah saja jika dikelola dengan baik, peka dengan keadaan sekitar dan empati.

Ini saatnya kita ubah kata baper yang berkonotasi negatif menjadi positif. Jangan tersinggung jika ada yang ngatain baper.

Kenali diri Anda supaya karakter positif dalam diri semakin berkembang dan bertumbuh sehingga menjadi pribadi yang sehat secara mental dan jasmani.

“Baper atau terbawa perasaan akan membuat Anda menjadi pribadi yang peka terhadap lingkungan sekitar”.

Sumber gambar: pixabay.com

***

Bionarasi

Liana Remhana Sinamo, M.Si., guru BK SMAS 2 Kristen Kalam Kudus Jakarta. Jika Anda membutuhkan konsultasi dapat menghubungi via email: liana.s@skkkjakarta.sch.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *