Pelayan Tuhan yang Konsisten

| Penulis: Kaston Sinaga

Figur Yohanes yang pasti sudah menceritakan tentang Yesus. Namun dalam hal ini kita mau melihat bahwa Yohanes merupakan seorang pelayanan yang konsisten. Kisah itu dapat kita baca dalam Injil Yohanes 1:29-30.

Yohanes lahir pada tahun 6 Sebelum Masehi. Ketika usianya kira-kira 40 tahun, ia meninggalkan dunia dengan cara dipotong kepalanya oleh pemerintahan raja Herodes.

Keunikannya, Yohanes harus memakai jubah bulu unta dan makanannya belalang dan madu hutan. Seorang yang berbeda dari yang lain. Semua bukan karena maunya Yohanes atau orangtuanya tetapi hal itu merupakan pesan dari Allah. Sebab Yohanes akan melakukan pekerjaan khusus dari Tuhan.

Yohanes nampak gagah dan berani serta siap sedia memberitakan kebenaran. Ia juga orang yang rendah hati. Ia mengingat posisinya dan tidak memedulikan popularitasnya. Padahal pada masa itu Yohanes menjadi idola bahkan dianggap sejajar dengan Mesias yang dijanjikan Allah dan sedang dinantikan umat Israel. Yohanes tetap konsisten.

Yohanes juga konsisten dengan konsep baptisan yang benar. Ia mengkritik mereka hendak dibaptis memiliki motivasi yang tidak tulus. Bahkan Yohanes menyebut mereka dengan istilah keturunan ular beludak.

Bahkan Yohanes konsisten dengan kebenaran Allah yang tidak memandang siapa manusia. Tak terkecuali kepada orang Yahudi yang bangga dengan keberadaan mereka sebagai keturunan Abraham. Status itu menurut Yohanes tidak berpengaruh pada kebenaran Allah.

Manusia saja memberikan apresiasi kepada orang yang konsisten lebih lagi Allah. Tuhan memberikan berkat kepada orang yang konsisten.

Murid-murid bertanya siapakah dia? Sehingga itu menggambarkan betapa hebatnya Yohanes dan popularitasnya. Dan Yesus bersaksi tentang Yohanes bahwa ia seorang yang luar biasa. Bagaimana Yohanes menjadi seorang yang demikian, berikut 4 hal yang dapat kita contoh dari Yohanes untuk menjadi seorang yang konsisten.

1. Tidak ikutan dengan dunia pada zaman itu. Ia berpakaian tidak seperti orang umumnya. Aritnya ia tetap mengikuti apa yang dimandatkan kepadanya.

2. Sadar akan diri sendiri dengan kata lain rendah hati. Yohanes sadar hanya seorang hamba. Namun yang sering terjadi kedagingan membuat kita lupa diri.

3. Tidak kompromi dengan kebenaran. Yohanes sangat memahami apa yang difirmankan-Nya. Untuk itu, kita harus mengerti akan kebenaran. Hal itu dapat diawali dengan pemahaman dengan kebenaran.

4. Ketika orang konsisten maka pujian akan datang baik dari manusia maupun dari Allah. Yesus berkata, “Barangsiapa melayani Aku ia akan dihormati oleh Bapa”.

Manusia saja memberikan apresiasi lebih lagi Allah. Tuhan memberikan berkat kepada orang yang konsisten.

Sumber gambar: https://stock.adobe.com/

***

Bionarasi

Kaston Sinaga, M.Div., Gembala Sekolah Kristen Kalam Kudus (SKKK) Jakarta sekaligus Bidang Korohanian SKKK Jakarta. Saat ini melayani juga di Gereja Kristen Kalam Kudus Kosambi Baru, Jakarta Barat.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *