Dengan Disiplin dan Kasih Meningkatkan Prestasi
PLC SMA Kristen Kalam Kudus 2 Jakarta: Why Am I a Teacher?

Jakarta, skkkjakarta.sch.id – Badan Pengurus Yayasan Kristen Kalam Kudus Cabang Jakarta gelar Professional Learning Community (PLC) di SMA Kristen Kalam Kudus 2 Jakarta. Hadir sebagai pemateri Bapak Wimpi Salim selaku Wakil Ketua, Jumat (06/02/2026). PLC diikuti guru-guru dan tenaga kependidikan SMA KKK 2 Jakarta.
Topik yang diangkat adalah Why Am I a Teacher, diawali dengan pemaparan tentang tahapan kehidupan. Setiap orang memiliki fase hidup yang berbeda-beda, mulai dari masa sekolah (TK–SMA), perkuliahan, dunia kerja, hingga membangun keluarga. Dari seluruh tahapan tersebut, masa yang paling membekas adalah masa sekolah.
Lebih lanjut pembicara memberikan gambaran dari perjalanan hidupnya. Pada waktu kecil, kondisi kesehatan sering terganggu dan kehidupan dijalani dalam lingkungan yang belum mengenal Tuhan. Tradisi yang kurang baik masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Terdapat seorang teman yang rajin pergi ke gereja dan pada awalnya justru sering mendapat ejekan. Namun, teman tersebut dengan setia terus mengajak untuk datang ke gereja. Hingga pada suatu waktu akhirnya ikut hadir, mengalami jamahan Tuhan, dan muncul komitmen untuk meninggalkan kesenangan duniawi.
Penerimaan terhadap Tuhan Yesus membawa pada kehidupan pelayanan. Selama masa kuliah dan bekerja, pelayanan tetap dijalani, meskipun pemahaman akan Firman Tuhan belum sepenuhnya utuh. Hingga akhirnya, dalam dunia kerja, bertemu dengan sebuah sekolah teologi dan mengikuti pendidikan hingga jenjang D4 serta menyelesaikannya dengan wisuda. Melalui proses tersebut, pemahaman akan Firman Tuhan semakin dibukakan.
Tahapan hidup yang paling signifikan adalah masa sekolah, karena pada fase inilah pengenalan akan Yesus dimulai. Menjadi milik Allah, masuk ke dalam Kerajaan Allah, sepenuhnya menjadi pengikut Kristus, serta percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai. Dari sanalah dimampukan untuk menjadi saluran berkat bagi keluarga, teman, dan banyak orang.
Dari situ Stages of Life, tahapan pertama saya sendiri (I am), lalu saya menjadi milik-Nya (He is), saya dan Yesus (We Are), dan mereka (They Are). Karena kalau kita pada tahapan diri sendiri terus dan belum masuk pada milik Yesus.Sebagai seorang guru bagaimana menerapkan tahapan we are, jadi bukan saya sendiri saya lalu bagaimana menjalani kehidupan bersama Yesus Kristus.
Sebagai seorang guru mulai dengan doa, hal itu menunjukkan bahwa bersama Yesus. Jika tidak masih akan berfokus pada diri sendiri. Ingat Yesus menyertai kita. Hal itu perlu disadari sehingga dapat menjadi berkat. Saat ini kita sudah terhubung dengan Kristus yang berkuasa. Maka dalam mengajar dan memimpin bahkan dalam pekerjaan.
Seseorang memang dapat dari diri sendiri lalu melayani banyak orang tanpa melalui perjumpaan dengan Kristus. Misalnya seorang yang telah berhasil dalam hidupnya lalu mengabdikan diri melayani orang lain. Hal itu baik, tetapi secara nilai belum mencapai nilai kekekalan karena memperkenalkan Yesus Kristus. Dalam konteks guru, menjadi guru adalah pekerjaan yang kekal karena ada kuasa Allah yang memberikan dampak bagi banyak anak-anak.
Dampak terhadap murid yang sangat besar adalah diligent (rajin). Ketika seorang rajin berdoa dan persiapan sebelum mengajar tentu akan memberi dampak pada murid. Jika Anda seorang guru, berapakah tingkat kerajinan Anda pada skala penilaian 1–10? Jika menjadi guru tidak rajin berdoa berarti masih pada tahapan diri sendiri. Artinya masih menonjolkan diri sendiri dan nilai kekekalan hilang.
Tuhan Yesus mempunyai ajaran dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru mengandalkan Allah selalu, dan selalu. Itu bisa terjadi bagi orang sudah menerima Kristus, menjadi milik Kristus, dan telah bersama dengan Kristus.
Kita ini diberikan kesempatan luar biasa karena ada tempat untuk berharap akan pertolong dalam situasi apapun. Berdoa minta kepada Kristus yang berkuasa. Ini anugerah yang akan berdampak besar dan memberi kebahagiaan.

***
Metode itu sangat penting (Method is Crucial). Sebagai guru sering diperhadapkan pada kekesalan kepada murid dan cara mengungkapkan itu sangat penting. Metode mengungkapkan kemarahan sangat dilihat dan direspon siswa. Dan itu menggambarkan karakter seorang guru dihadapan siswa. Hal yang paling nampak dan sering digunakan adalah melalui kata-kata. Memilih kata ketika marah menjadi hal krusial.
Oleh karena itu, kita memerlukan pertolongan Tuhan. Karena disitu dapat membuat anak memberontak bahkan merencanakan sesuatu untuk mencelakai kita. Menguasai diri menjadi dasar dalam menghadapi situasi tersebut. Lebih mengungkapkan perasaan kekesalan kepada murid untuk membangun rasa. Menyentuh perasaan murid dan bukan untuk menunjukkan kuasa. Menghadapi krisis tersebut memberikan kelegaan. Dengan mengungkapkan perasaan dengan jujur kepada murid. Dengan begitu murid akan respek terhadap guru.
Metode yang menyenangkan akan membuat murid dekat dan memuji. Tetapi yang tidak boleh adalah terlalu dekat sehingga wibawa seorang guru terdegradasi. Membandingkan antar murid sungguh tidak dianjurkan karena tidak ada satupun murid yang mau direndahkan. Tetapi sekalipun demikian pendisiplinan dan pembinaan karakter
The Worst Impact
Dampak buruk atau pengaruh buruk (Worst Impact). Raut wajah guru perlu dijaga, jika sedang marah atau kesal sebaiknya jangan masuk kelas. Tunggu sampai reda. Kemalasan, tidak persiapan, sekadar menjalankan tugas juga berdampak kurang respeknya para murid.
The Best Impact
Menjadi inspirasi dengan tidak mudah tersinggung, menunjukkan semangat, dan yang paling penting adalah kasih sayang. Menunjukkan kasih yang tulus kepada murid akan nampak sekali di hadapan murid. Tindakan kasih adalah hal yang jadi inspirasi utama bagi murid.
What have you done? apa yang telah kita lakukan? jawaban kembali kepada kita masing-masing. Dan pada akhirnya, Why become a teacher? kita mengerti (understanding) menjadi guru karena Tuhan Yesus menyertai dan memberi kuasa. ***




